AMBISI UIN Sunan Ampel Surabaya Melaksanakan Studi Tour ke Bali


Tak ada raut wajah muram. Sepanjang perjalanan semuanya tertawa, bercanda dan saling bertukar pengalaman setelah lama sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Memberikan pengalaman dan kebersamaan yang sangat berharga. Tidak akan terlupakan kenangan ini dalam ingatan. Beberapa pemandangan yang tidak pernah saya lihat selama ini menjadi suguhan menarik sepanjang perjalanan. Sebuah bangunan yang terletak di kota Probolinggo dengan kerlap-kerlip lampu menyita perhatian kami. Ternyata setelah mendengar penjelasan dari salah satu sahabat yang berasal dari sini, bangunan itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sebuah bangunan yang luar biasa.

Situbondo. Bus terus melaju tanpa henti. Melewati hutan-hutan yang tidak ada satu pun cahaya yang menerangi, hanya cahaya dari kendaraan yang lewat yang mayoritas beroda empat. Hanya beberapa orang yang berani melewati situasi seperti ini menggunakan roda dua ketika malam hari. Entah apa yang terjadi apabila kehabisan bahan bakar atau terjadi masalah pada mesin. Sunyi mewarnai suasana dalam bis. Pikiran negative itu segera saya singkirkan dan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Kami berhenti di salah satu rumah makan, tepatnya di daerah Situbondo. Membersihkan diri dan mempersiapkan segala hal untuk melanjutkan perjalanan.

Banyuwangi. Situasi kembali ceria hingga tidak terasa telah sampai di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ini pertama kalinya bagi saya mengunjungi pelabuhan dan menaiki kapal. Beberapa menit kami menunggu di dermaga, akhirnya kapal pun tiba. Kami berjalan memasuki kapal sambil melihat sekitar. Ada sebuah pertunjukan laut menarik yang dipertontonkan remaja-remaja setempat dan pengunjung pun melempar beberapa uang koin. Saya tidak habis pikir, mereka rela bertarung melawan dinginnya malam untuk rupiah. Semoga mereka ditempatkan dan diberikan nikmat oleh Tuhan sesuai dengan harapan dan cita-citanya kelak di masa yang akan datang.

Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke-2 di dunia setelah Kanada. Menjadi kebanggaan tersendiri ketika mengunjungi setiap pantai di negeri ini, khususnya yang berada di Pulau Dewata, Bali. Pulau yang tersohor ke seluruh penjuru dunia ini memberikan destinasi wisata berbasis pantai yang tidak diragukan lagi keindahannya. Bahkan bisa dibilang Bali menjadi pintu masuk pengetahuan kebudayaan Indonesia. Seseorang yang belum mengenal Indonesia biasanya telah mengenal Bali dengan wisatanya. Pemerintah sudah selayaknya memberikan perhatian lebih kepada Bali dan merawat destinasi wisatanya untuk mengenalkan Indonesia ke seluruh dunia.

Perjalanan kami dimulai dari Tanah Lot. Sebuah wisata yang menurut kepercayaan orang-orang Bali bahwa dulu ada seorang dewi yang bernama Dewi Ratih. Dia menginginkan kesuburan yang ada di Pulau Jawa, sehingga Dewi Ratih membawa gumpalan tanah itu. Namun, dalam perjalanan sebagian tanah tersebut jatuh tepat di Pulau Bali. Tanah tersebut berinteraksi dengan air sehingga lama-kelamaan membatu yang sekarang disebut Tanah Lot.

Pemandangan Tanah Lot yang sungguh indah dengan kombinasi laut dan tatanan bunga yang diatur sedemikian rupa membuat setiap mata tak henti-hentinya takjub. Ketakjuban itu membuat setiap tempat tidak mungkin untuk dilewatkan. Kami pun mengambil gambar bersama-sama, sebagai penguat ingatan kami telah mengunjungi Pulau Dewata, khususnya Tanah Lot. Sebagian sahabat juga ada yang berkesempatan berfoto dengan sesepuh desa yang sedang bersembahyang.

Di ujung pantai yang terletak di dalam goa, ada seekor ular yang dipercaya masyarakat setempat sebagai ular suci. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan ular ini dinamakan demikian. Yang jelas ular ini berada di lubang pasir yang tampaknya sengaja dibuat. Bentuk tubuhnya seperti ular-ular kebanyakan. Namun, warna kulit yang baru pertama kali ini saya lihat dimiliki oleh ular. Warna kulit ular ini belang hitam putih, seperti zebra.

Kemudian kami menuju rumah makan yang masih berada di kompleks Tanah Lot. Saya membeli ikat kepala khas Bali dan mengambil gambar di sebuah patung. Saya rasa sebuah kebudayaan tidak merubah keyakinan saya terhadap Islam. Malah semakin mantap keyakinan itu setelah melihat hal-hal yang tidak masuk akal. Patung yang dibuat oleh manusia menjadi sesembahan. Mana khaliq mana makhluk, coba deh pikirkan….!!!! Gak rasional banget.

Perjalanan kami dilanjutkan menuju Pantai Kuta, destinasi wisata yang sangat terkenal seantero dunia. Kami menaiki angkutan umum untuk mengantarkan kami dari parkiran bus hingga Pantai Kuta. Menyaksikan panorama keindahan Pantai Kuta membuat kata-kata tertahan dalam benak. Kami hanya takjub akan ciptaan Illahi. Kata-kata bukan menjadi ukuran keindahan kali ini. Sambil melangkahkan kaki, kami menyusuri keindahan pantai. Banyak wisatawan asing dan domestic sedang menikmati hangatnya sang surya. Selain itu, kami juga harus mewawancarai wisatawan asing dengan tujuan memperlancar bahasa Inggris. Tidak lupa kami berpose dengan turis-turis tersebut. Asyiknya menikmati panorama pantai hingga melalaikan waktu yang menyebabkan beberaapa orang termasuk saya tertinggal di pantai, sedangkan yang lain telah menunggu di dalam bus.

Kemudian kami menuju Tanjung Benoa, tempat penangkaran penyu. Pulau yang khusus digunakan untuk perlindungan penyu yang selama ini menjadi buruan manusia. Kami melewati jalan tol yang diklaim terbesar ke-2 setelah Jepang. Dan sesekali kami menyaksikan pesawat yang sangat dekat dengan daratan. Sampai di tempat parkir, menuju tempat penangkaran penyu kami menaiki perahu mesin. Sementara itu di tepi pantai kami melihat wisatawan asing yang sedang memainkan permainan air. Permainan ini apabila dilakukan dengan benar dapat membuatnya terbang, seperti Iron Man. Keseimbangan yang harus dijaga ketika memainkannya.

Setelah itu kami mengunjungi Garuda Wisnu Kencana. Sebuah tempat pertunjukan kebudayaan Bali. Terdapat patung Wisnu yang sedang mengendarai garuda yang tingginya ketika jadi nanti diklaim mengalahkan patuk Liberty. Menuju tempat ini kami melawati perkotaan yang menyuguhkan berbagai patung dan ukiran yang luar biasa. Ada juga bangunan yang didesain klasik. Sesampai di sini kami menyaksikan pertunjukan tari yang berada tepat di depan patung Wisnu. Di penghujung kunjungan, kami memasuki ruang teater. Sebuah pertunjukan tari Kecak menghibur kami semua dan pengunjung yang lain.

Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan. Tak satu kata pun terdengar, mungkin semuanya kelelahan dan tertidur. Sampai di tempat penginapan, kami menyantap hidangan makan malam. Sambil mendengarkan pembagian kamar dan penunjukan ketua kamar sebagai pemegang kunci. Kami memasuki kamar masing-masing setelah puas menyantap makanan. Membersihkan diri, beribadah dan kemudian beristirahat. Menunggu hari esok yang lebih baik.

Perjalanan kami hari ini dimulai dari Karang Kurnia, sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik khas Bali. Perjalanan tidak terlalu jauh dari penginapan, kurang lebih 15 menit. Saya memilih kaos dan beberapa oleh-oleh. Cukup murah dan terjangkau. Kemudian kami mengunjungi Jogger, sebuah tempat penjualan pernak-pernik Bali dengan ciri khas kata-katanya. Saking terkenalnya, ketika mengunjungi tempat ini suasana sangat ramai. Penuh sesak pengunjung dari berbagai negeri. Di dalam ruangan, saya sempat mendapat teguran dari penjaga karena saya memotret sebuah kata-kata. Tidak saya ketahui kalo ternyata di dekat pintu masuk ada aturan tersebut. Saya juga bertemu sahabat-sahabat Surabaya Selatan di tempat ini, sebuah kebetulan.

Puas berbelanja pernak-pernik Bali, kami menuju rumah makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Danau Ulun Danu Beratan. Sempat kebingungan ketika berada di rumah makan ini karena banyaknya pengunjung. Namun, tempat ini yang menurut saya menyuguhkan panorama indah. Menikmati hidangan makanan sambil melihat pemandangan sekitar. Tempat strategis yang berada di dataran tinggi mungkin yang membuat tempat ini selalu ramai.

Perjalanan menuju Danau Ulun Danu Beratan melewati tebing-tebing curam yang membuat hati was-was. Tapi di sisi seberang jalan lain menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Terdapat sebuah danau dengan tanaman yang menghijau. Tidak lama kemudian, kami sampai di Danau Ulun Danu Beratan. Selain keindahan alamnya yang selama ini hanya bisa dilihat di lukisan-lukisan, saya menemukan sebuah masjid dan merdunya suara azan. Pertama kali saya temukan sejak pertama kali kedatangan di Pulau Seribu Pura ini.

Saya mengabadikan pemandangan bersama sahabat-sahabat. Diantara berbagai tempat yang telah kami kunjungi di pulau ini, Danau Ulun Danu Beratan yang menjadi favorit saya. Di danau ini, saya menaiki boat bersama sahabat-sahabat. Pertama kalinya saya menaiki kendaraan air yang cepat ini. Hanya saya yang berteriak-teriak karena sedikit takut dengan situasi di atas boat. Setelah turun dari boat pun perut saya terasa mual.

Puas menikmati indahnya tempat ini yang dikolaborasikan menakjubkannya alam, kami mengunjungi masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat ini. Segarnya air dan betapa tenangnya masjid menyingkirkan beribu letih yang singgah di hati dan pikiran. Di halaman masjid, juga terlihat pemandangan danau dan seluruh wisata Ulun Danu Beratan. Betapa menakjubkannya tempat ini. Tak lupa kami mengabadikan tempat ini.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Beberapa jam harus kami lalui bersama tanpa suara menuju pelabuhan Gilimanuk. Bukan menjadi hal baru kali ini, sehingga kami hanya duduk di tempat yang telah disediakan. Tidak berputar-putar seperti keberangkatan beberapa waktu yang lalu. Kebersamaan dan keceriaan di dalam kapal semakin mempererat ikatan emosional diantara kita. Tidak begitu lama, kami telah sampai di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kami harus berjalan agak jauh untuk kembali menuju bus.

Beberapa menit dari pelabuhan, kami singgah di rumah makan. Mengisi perut untuk memulihkan tenaga sambil membersihkan tubuh dan membeli beberapa makanan ringan. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Pahlawan, cukup kiranya perbekalan sepanjang perjalanan.

Di dalam kapal, tidak ada hal yang membuat kami duduk tenang. Kami duduk di dek kapal sambil menikmati pemandangan malam di tengah laut. Hanya suasana langit dengan beberapa bintang dan bulan yang tidak memantulkan sinar sepenuhnya. Dan juga beberapa gemerlap lampu yang terlihat di ujung dermaga, namun tidak dapat kami nikmati keindahan laut. Sangat bersyukur Tuhan telah memberikan kesempatan yang sangat luar biasa ini kepada saya untuk menyaksikan keagungan-Nya.



Posting Komentar

0 Komentar