Kunjungan Rumah Bahasa Surabaya

Sebagai orang Jawa tulen, sudah sepantasnya tahu dan melestarikan budaya Jawa. Ada satu pemikiran orang Jawa yang membuatku kembali berkobar dalam belajar. Filosofi yang juga digunakan Soekarno dalam kehidupannya yakni ‘Nguluru ilmu kanthi lelaku’ yang artinya mencari ilmu itu dengan perjalanan. Konsep ini maknanya sangat dalam, luas-sempit atau jauh-dekatnya sebuah perjalanan menuntut ilmu ditentukan oleh satu hal. Tanpa latihan dan praktek secara serius satu hal tidak akan dikuasai. Hal itu adalah bahasa. Dengan bahasalah seseorang bisa ngluru ilmu, karena dengan bahasa akan membuka tabir kegelapan yang menutupi ilmu.

Perjalanan menuju Rumah Bahasa Surabaya menjadi agenda pagi ini bersama sahabat-sahabat AMBISI. Bukan menjadi hal baru bagiku berkunjung ke tempat ini. kalo dibilang kurang menarik, memang benar. Tapi, dengan sahabat ada cerita untuk dikenang. Gelak tawa, gurauan, dan tingkah laku mereka selama perjalanan membuat kegalauan terusir secara paksa. Selain itu juga, kami mengunjungi perpustakaan umum Surabaya. Sebuah tempat yang sangat nyaman untuk belajar dan menambah pengetahuan.

Ada satu peristiwa unik yang tak terlupakan dalam perjalanan kami kali ini. Ketika perjalanan menuju tempat tinggal masing-masing, ada sahabat kami yang tertinggal. Ingatan itu muncul ketika kami menunggu bis kota di persimpangan jalan. Tiba-tiba ada pesan masuk yang menanyakan keberadaan kami. Seketika itu aku kembali untuk menjemputnya. Sebab peristiwa ini, kepulangan kami menjadi dua gelombang. Tidak menarik memang tanpa sebuah kebersamaan. Dari peristiwa ini ada hikmah yang kudapatkan agar senantiasa waspada. Rintik-rintik hujan di sore hari, menjadikan aktivitas pasif. Bergelut dengan kesendirian menantang dinginnya temperature udara, detik demi detik berlalu begitu saja dengan deretan kata yang tersusun beriringan dengan dentuman keyboard.



Posting Komentar

0 Komentar