Studi Tour Kampung Inggris Pare


Waktu memang sangat berbahaya. Tanpa kita sadari akan menyelinap masuk di setiap ruang. Seminggu telah berlalu, berjalan begitu saja seperti semilirnya angin. Tak tau apa yang kita dapat, aku cuma bisa berharap mampu mengambil manfaat dalam mengarungi samudera intelektual.
Pagi hari (24/8) kami berolah raga bersama. Dilanjutkan mengunjungi Taman Kilisuci, masjid Agung Pare dan tempat bermain lainnya. Kemudian kami beristirahat dan membersihkan diri. Pukul 10.00 kami berkumpul di depan office, kami berangkat menuju Goa Surowono. Perjalanan yang begitu bermakna, jauh dan melelahkan, namun penuh dengan kebersamaan. Sebuah universitas kehidupan.
Kami memasuki goa yang sangat kecil. Lebarnya setengah meter dan tingginya paling tinggi 1,5 meter dan paling rendah setengah meter. Tak lupa genangan air setinggi lutut orang dewasa dan sepanjang goa tidak dilengkapi lampu, hanya berbekal center kecil. Bisa dibayangkan betapa serunya perjalanan kami. Sekitar 20 menit kami menyusuri goa akhirnya kami bisa menghirup udara segar. Pengalaman yang sangat luar biasa.
Perjalanan kami dilanjutkan mengunjungi sebuah candi. Peninggalan leluhur yang sekarang menjadi wahana wisata. Begitu kaya Negara kita, penuh sejarah dan pusat peradaban. Perjalanan pulang menjadi sangat melelahkan bagiku karena harus berbagi sepeda dengan teman. Keluh kesah kebersamaan dapat meningkatkan kualitas emosional.
Kami kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat, setelah seharian melalang buana di kecamatan Pare. Malam hari, kami memulai program speech contest dengan berbagai ekspresi. Keseriusan oleh para speecher dan gelak tawa ketika hiburan ditampilkan. Semuanya semakin menambah hubungan emosinal satu sama lain.
Hari ini (27/8) menjadi hari pertama minggu kedua kami belajar bahasa Inggris di kampong Inggris, Pare. Setiap dari kami menyongsong hari ini dengan penuh semangat, setelah seharian menghabiskan akhir pekan bersama. Sebuah ikatan emosional yang tak mungkin terlupakan. Setiap dari kami mengikuti kelasnya masing-masing. hari baru, semangat pun berapi-api untuk menjadikan perubahan menjadi sesuatu yang pasti. 
Siang hari aku dan teman-teman sekelas berencana membeli ketan susu (tansu). Namun apa boleh buat, kami harus kecewa ketika sampai di tempat dikarenakan hari ini warung tersebut tutup. Kami pun segera kembali ke camp masing-masing. Sore hari aku kembali mengikuti program. Aku sangat bersemangat karena kali ini materi yang dipelajari sesuai dengan hobiku, yakni keindonesiaan. 
Malam hari kami mengganti program kami dengan bakar-bakar jagung. Sederhana, namun dari kesederhanaan tersebut muncul sebuah kebersamaan yang menjadi inti dari kehidupan. Aku sangat berbahagia bisa berada di suasana seperti ini. Kami menghabiskan malam dengan canda dan tawa.
Pagi yang sangat menyejukkan (26/8). Aku terbangun oleh sejuknya semilir angin. Selasa menjadi hari khusus buatku untuk menulis. Namun kini tak kutemukan satu pun penjual koran. Aktivitasku pagi ini pun berganti tadabbur alam bersama sahabat Muhlisin. Aku berdiskusi dengannya tentang segala hal dengan menikmati segelas susu jahe dan sepiring ketan susu (tansu) di sebuah warung. Kami mempunyai teman baru di sini, Puja namanya, berasal dari Lampung. Dia berbicara banyak hal tentang berbagai realitas di muka bumi ini. Sungguh mengesankan pagi hari ini.
Kemudian aku bersama sahabatku, Muhlisin, harus kembali ke camp untuk mempersiapkan diri mengikuti program. Aku mengikuti program dengan sangat gembira karena tak akan kurasakan lagi suasana seperti ini. Setelah itu, aku beristirahat dan kembali masuk kelas sore hari. Belajar bahasa memang mengasyikkan, berbagai macam game dan permainan tersedia di sini. Sehingga tanpa kita sadari seseorang akan menghabiskan banyak waktu untuk belajar bahasa dengan happy.
Malam hari seperti biasa, kami kembali mengikuti rutinitas speech contest. Malam ini kami mengganti stan di depan office sehingga siapa pun yang lewat bisa menyaksikan. Dari penampilan beberapa speecher menurutku mala mini yang terbaik. Mereka tampil layaknya native speaker. Ingin rasanya aku mampu seperti itu. Kemudian kami kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat.
Sosok perempuan muncul dalam benakku kali ini, Alfin Nur Maghfiroh. Seorang teman yang tak asing bagiku. Pertemuanku dengan dia berawal dari sahabat ku, Siti Mahzumah. Entah apa yang membuatku tak bisa tidur. Aku bersikap dan berinteraksi dengannya seperti biasa. Kekagumanku padanya memuncak ketika penampilannya dalam speech contest. Membuatku terpanah dan seakan nafasku berhenti melihatnya dia berbicara. Aku hanya bisa berharap kekagumanku padanya tidak memalingkan rasa cintaku kepada Allah. Aku hanya bisa berharap jika dia baik denganku, maka dekatkanlah dan sebaliknya, jika tidak baik buatku, maka jauhkanlah sejauh-jauhnya. Cukuplah rasa itu kusimpan dalam hati, agar aku tidak kehilangan kenikmatanku dalam beribadah.
Rabu (27/8) menjadi hari terakhir kami menerima pembelajaran. Pagi hari kami belajar speaking di tempat yang berbeda. Kami belajar disebuah tanah lapang. Pembelajaran di setting dengan sebuah permainan. Begitu mengesankan tapi juga melelahkan. Kemudian kami menikmati sebuah hidangan, ketan susu. Makanan yang tak asing bagiku. Kemudian kami belajar pronounciation yang sungguh membuat haus setiap tenggorokan. 
Sejenak kami beristirahat, memberikan kesempatan kepada jiwa untuk merenungi makna sebuah kekosongan. Kemudian kami kembali masuk kelas grammar, dengan teacher yang sangat gokil, Mr. Unun. Setelah itu, kami berlatih berbicara dengan model pembelajaran debat. Setiap dari kita menunjukkan kemampuannya masing-masing. 
Malam hari menjadi hari terakhir kami dalam program speech contest. Sebuah kenangan terukir di tempat ini. Kebersamaan bersama teman-teman yang telah lama tak berkumpul dalam membangun negeri ini melawan keterbatasan. 
Hari ini (28/8) menjadi hari penentuan kami dalam mengukir sebuah prestasi. Beberapa program dilaksanakan ujian hari ini. Aku mengikuti ujian pronounciatian dan speaking. Namun, ujian speaking tertunda karena ada kendala yang dialami oleh tutornya. Sedangkan program yang lain masuk seperti biasa. Kita mereview pelajaran-pelajaran yang telah lalu. 
Malam hari, kami kembali berkumpul untuk membaca yasin bersama-sama. Beberapa salawat kami lantunkan dengan variasi lagu yang berbeda. Kemudian kami menikmati tayangan foto dan video kegiatan selama kami belajar di kampong Inggris. Menjadi kenangan yang tak terlupakan, belajar bersama dengan kawan-kawan senasib seperjuangan. Kemudian aku menghabiskan indahnya malam dengan secangkir kopi bersama Humam dan Habib dan beberapa teman yang lain.
Hari ini (28/8) menjadi hari terakhir kami di kampong Inggris. Menjadi hari-hari berat kami, baik dalam mengikuti ujian maupun berakhirnya kebersamaan kami belajar bahasa Inggris di kampong ini. Seharian kami mengikuti ujian dan diakhiri dengan pesta di malam hari. Penampilan setiap kelas begitu mengesankan, membuat kami semakin betah disini. Malam-malam terakhir, kami habiskan bersama. Bercanda ria mengikat kekuatan emosional untuk menembus ruang dan waktu. 
Jum’at (29/8) kami melakukann ujian bersama di depan office. Grammar menjadi ujian pertama kami. Ujian terbuka dan bersama-sama menjadi ujian terakhir kami sebelum meninggalkan kampong ini. Kemudian kami masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti ujian speaking. Setelah itu bagi para laki-laki, berangkat menuju masjid untuk menunaikan salat Jum’at. 
Sore hari kami gunakan untuk mempersiapkan firewall party. Setiap kelas diwajibkan untuk menampilkan kebolehannya dalam berseni. Sementara aku dipercaya untuk menjadi master of ceremony (MC) bersama sahabatku Miss. Ayuni. Campur aduk hatiku dalam menghadapi situasi seperti ini. Namun, semua itu bisa kami lalui. Satu per satu acara berjalan dengan sukses. Menjadi malam indah bagi kami dengan tampilan masing-masing kelas. 
Setelah acara selesai, kami khususnya para laki-laki menikmati secangkir kopi di sebuah warung. Warung dengan desain dan ornament klasik yang membuat malam kami semakin indah. Kemudian, kami kembali ke camp untuk beristirahat.
Pagi ini (30/8) kami mempersiapkan diri untuk kembali ke kota pahlawan. Pagi hari aku menikmati indahnya kampong ini. Menikmati ketan susu dan secangkir susu jahe. Kemudian kami membeli oleh-oleh secukupnya untuk keluarga. Setelah itu kami kembali ke camp untuk bersih-bersih dan menunggu kedatangan bus. Tak lama kami menunggu, akhirnya bus pun datang dan kami menempati tempat kami masing-masing. namun, kami harus menunggu ketiga teman kami yang masih ada di camp. Perjalanan menuju ke kota pahlawan, semuanya terasa tenang dan sesekali bercanda ria.

Posting Komentar

0 Komentar